Halimah, Perajin Kerang

Kerang Kusan Jadi Pajangan Lucu

Kulit Kerang yang Kusam Disulap Jadi Pajangan Lucu

Seharian membusuk di kamar membuatku jenuh. Jam di HP menunjukkan pukul 13.15. Kutengok suasana di luar lewat jendela. Langit tampak cerah. Walau udara Surabaya sedang di puncak panas terbakar matahari, aku butuh keluar. Segera pancal starter motor tuaku. Selanjutnya perjalanan ini mau kemana, hanya Tuhan yang tahu.

Niat semula hanya ingin keluar cari makan. Namun, jika sudah tercantol kamera di pundak, maka tak cukup jika hanya makan. Baiklah, bahan bakar harus diisi penuh. Sebab, seperti yang sudah-sudah, jika hal semacam ini terjadi, maka aku pun tak bisa memprediksi kapan bakal sampai di rumah lagi.

Makan bukan hal penting, maka kubiarkan roda motor menggelinding begitu saja. Menyusuri jalanan Surabaya bagian timur dengan kecepatan tak lebih dari 30 km per jam. Sedapnya, serasa jalanan milik sendiri. Melintasi Jl. Prof. Moestopo ke arah timur melewati Kampus C Unair, ke utara, Jl. Raya Kenjeran kemudia belok kanan.

***

Sampailah di depan gerbang salah satu destinasi wisata yang cukup tenar bagi warga Surabaya dan sekitarnya. Sudah lama aku tidak menyambagi kawasan ini. Ada yang baru pada penampilan di pintu gerbangnya. Seingatku, terakhir kali ke sini banyak bahan bangunan yang tertumpuk di sebelah kanan gerbang itu. Kini bangunan yang dulu dimulai sudah selesai.

Sebuah menara setinggi gedung lima lantai telah bertengger megah. “KENPARK,” satu kata dengan huruf capital terbuat dari besi bercat hitam, tercetak di puncak menara. Rupanya manajemen Pantai Ria Kenjeran sedang berbenah.

Seperti biasa, aku hanya melewati Kenpark. Sedang tidak ingin mampir. Lagi pula aku tidak pernah lagi masuk ke sini di siang hari setelah pengalamanku di awal mengenal Surabaya. Pantai yang begitu dibanggakan begitu kering dan membosankan. Menurutku tak ada yang layak dinikmati di sini. Khususnya di siang hari. Makanya jika ke sini selalu kupilih pagi hari. Menyaksikan matahari yang sedang merangkak naik cukup mengasikkan. Dan yang perlu dicatat, masuk ke Kenpark di pagi hari dengan kostum seadanya tidak ditarik karcis. “Dianggap sebagai warga sini,” kata seorang pedagang es degan suatu ketika.

Dari gerbang Kenpark, lurus ke arah utara terbentang jalan menuju perkampungan nelayan Kenjeran dan Nambangan. Biasanya walau di siang hari yang terik, jalanan ini asik disusuri dengan motor, apalagi sepeda. Jalan lurus dan rata ini di kiri kanannya tertata dengan rapi warung-warung penjual berbagai macam olahan hasil laut. Ikan asap, ikan asin, dan puluhan jenis kerupuk selalu menghiasi perjanan. Serta bau khas ikan teri dan udang yang dijemur.

Sayang, hari ini jalan itu ditutup. “Ada apa to, Pak?” tanyaku pada seorang lelaki baya berseragam hansip. “Ada yang sedang punya gawe,” jawabnya. Weleh, jalan umum yang menjadi akses transportasi masyarakat ditutup untuk kepentingan pribadi? Jika dipikir, yang rugi bukan hanya pemakai jalan, namun juga para pedagang. Sehari penuh perputaran uang transaksi terhenti. Ya sudahlah, aku pilih jalan alternatif lewat komplek perumahan.

Ada hikmah di balik penutupan jalan tadi. Di jalur yang baru saja kulalui aku menemukan tempat yang selama ini tak kusadari keberadaannya. Ternyata ada pangkalan angkutan umum yang cukup besar di daerah ini. Karena tempatnya tidak tampak dari jalur yang selama ini kulalui, maka baru kali ini aku tahu, ada terminal angkot.

Dua puluh meter dari terminal angkot, sebuah pertigaan menghubungkan jalan ini dengan jalan yang tadi ditutup. Ambil kiri jalan terus… Di depan ada pantai yang sebenarnya. Walau tidak berpasir putih, jika air surut anak-anak nelayan suka bermain perahu di situ.

Tunggu. Lagi ngapain ibu itu tadi. Tumpukan karung berisi kerikil hitam pipih seukuran koin Rp 100 jadul -yang gambarnya gunungan itu, lho-, juga beberapa ember berisi benda yang sama tapi warnanya putih. Untuk memenuhi rasa penasaran, kuputar stang motor, balik kanan maju jalan…

Tumpukan rumah kerang dan Halimah

Mencuci Rumah Kerang

Di bawah rindang pohon trembesi, dipinggir jalan sekaligus sungai, seorang perempuan tua sibuk dengan aktivitasnya. Karung-karung besar dan beberapa ember berada disekitarnya. Sesekali ia mengguncang-guncang benda kecil-kecil putih dalam ember dan membuang cairan berwarna putih sisa pencucian ke sungai.

Rupanya kerikil hitam tadi adalah rumah kerang, begitu juga yang putih. Bedanya, yang hitam belum diolah dan yang putih sudah melalui beberapa tahap pengolahan. “Yang dari karung itu digodok dulu, kemudian direndam pakai pemutih beberapa jam, setelah itu dikasih ini,” ujar perempuan itu sambil menunjukkan sebuah botol air mineral berisi cairan berwarna kekuningan. Ternyata itu air keras. Pemutih tentunya untuk menambah kilau rumah kerang. Sedang air keras untuk merontokkan lapisan luar yang berwarna kehitaman. Setelah ketiga langkah itu selesai, baru dijemur.

Rumah kerang yang kusam kini hampir bersih

Tuh.. Setelah Dicuci Pakai Air Keras, Kulit Kerang Jadi Cling....

“Nggak bahaya, Bu, pakai air keras,” tanyaku penasaran. “Ya paling kalo kena gatal-gatal, asal nggak kena banyak,” ujarnya sambil menunjukkan tangan kanannya yang tampak ruam merah gatal. Air keras ini tidak sampai merusak kulit. Dalam beberapa jam setelah aktifitas, gatal itu akan hilang dengan sendirinya.

Halimah, sudah 40 tahun menekuni profesi sebagai perajin kerang. Perempuan usia 50 tahun ini mengaku telah memulai mata pencahariannya itu sejak masih duduk di bangku SD. Sebenarnya Halimah pernah mencoba untuk beralih profesi beberapa kali. Misalnya menjadi pedagang sayur dan ikan di pasar. Namun selalu gagal. “Ya akhirnya kembali lagi ke kerajinan kerang,” tuturnya.

Tirai Kerang

Tirai Kerang Dipajang Di Showroom

Sekarang ada delapan orang yang menjadi karyawannya. Semuanya perempuan dan tetangga rumah. “Untuk mengisi waktu dan menambah penghasilan,” ujar Prianti, salah satu karyawan.

Soal penghasilan, “Cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya polos. Dalam sehari jika sedang rame bias dapat hasil kotor sampai Rp. 200.000,- Apalagi kalo ada orang dari luar kota beli dalam jumlah besar. Sekali transaksi mencapan satu hingga dua juta. “Tapi biasanya itu jarang, paling kalau mereka kulakan lagi, dua sampai tiga bulan kemudian,” tutur Halimah.[]

Bros dari Kulit Kerang

Bros dari Kulit Kerang

Asik, hari ini satu hal menarik telah membuka mataku…

Iklan

About pagarduri

Adalah ruang kreasi yang tak mengenal batas
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Halimah, Perajin Kerang

  1. kun berkata:

    salam kenal, pagarduri , 🙂
    so inspiring!
    Good…good…membuka wawasan baru pengusaha di Kenpark, soalnya selama ini yang diangkat mesti ‘itu-itu….’ aja,
    gambar2nya jga keren, euy!
    ditunggu tulisan2 berikutnya, 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s