Santap Api di Argosari

Story & Pictures by Ary Sulistyo

Sejak awal perjalanan ini dimulai, kami telah sadar bahwa yang akan dilalui adalah jalan terjal berbatu, dengan suhu yang dingin menusuk tulang dan butuh waktu yang tak sebentar. Namun selalu saja ada hal yang di luar perhitungan. Apa saja yang bakal ditemui Tim Survei BBQ 1431 LMI, yang beranggotakan Anang Widorahman, Eko Harianto, Elid Liradianta, dan Ary Sulistyo, dalam perjalanannya “desa di atas awan” kali ini?

“Dari sini, jika lancar kita butuh satu jam perjalanan,” kata seorang pemandu. Entah hanya ingin membuat kami lega atau memang begitu adanya. Satu jam tak terlalu lama jika dibanding perjalanan yang hari ini telah kami lalui. Kali ini Desa Argosari Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang adalah lokasi yang akan dituju tim survey BerBagi Qurban (BBQ) LMI 1431.

Tepatnya di kaki gunung Bromo Desa Argosari ini berada. Jika sekarang sudah sampai di depan Pasar Kecamatan Senduro, maka desa itu tak akan jauh-jauh. Itu yang terbersit di benak kami. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami mampir ke rumah Didin Pratanto. Seorang dai yang telah empat tahun menjalankan tugas menyebarkan Islam di Desa Argosari. Ia yang akan memandu kami ke atas. Setelah istirahat sejenak, agar tidak terlalu sore, kami segera melanjutkan perjalanan.

***

Dari kecamatan Senduro, untuk menuju Desa Argosari, kami memacu kendaraan ke arah utara. Jalan landai. Pengeras jalan masih terjaga dengan baik. Kanan kiri jalan dengan mudah dijumpai orang-orang memikul tandantandan pisang dan menyungging dandang berisi susu segar. Daerah ini memang terkenal dengan produsen pisang dan susu sapi. Sekitar delapan kilometer kemudian, jalan mulai lebih menanjak. Selain rumah-rumah semakin jarang dan sepi, lubang-lubang di jalan juga semakin sering menjebak roda kendaraan.

“Dari sini sudah mulai terasa dinginnya,” kata Didin memberi semangat. Buru-buru jendela kami buka. Segaaar… Menurut Didin, kami beruntung cuaca sedang mandukung. Sejak semalam hujan tidak turun. Hari ini pun cerah sehingga kami bisa menikmati udara segar. Walaupun lembah dan bukit di seberang diselimuti kabut. Sepanjang perjalanan kami disuguhi suasana khas pegunungan. Udara sejuk dengan pemandangan yang menyegarkan mata. Seisi kendaraan pun terpana menyaksikan kebesaran Allah yang terbaca dari setiap ayat yang tertulis di alam. Subhanallah.

Di tengah menikmati iklam pegunungan, tiba-tiba, “Awas!” teriakan Didin memecah keheningan. Sebuah lubang menganga menghadang di depan. Untung Elid Liradianta, sang pengandara telah banyak merasakan asam dan garam sebuah perjalanan di medan ekstrim. Dengan sigap ia memutar-mutar stang bundar sambil mengoper perseneling untuk menghindari jebakan sambil menstabilkan laju kendaraan. Setelah melalui jalanan yang menanjak dan berliku, dan mesin kendaraan mati beberapa kali, di kejauhan terlihat berdiri kokoh sebuah gapura yang tampaknya baru dibangun. “Selamat Datang di Kawasan Wisata Desa Argosari Kecamatan Senduro.” Desa ini sejatinya akan dijadikan tujuan wisata.

Jam di telepon genggam menunjukkan pukul 14.15, kami memasuki Desa Argosari. Suasana desa yang asri dengan rumah-rumah berhalaman luas tertata di sepanjang jalan. Sebagian besar rumah terbuat dari kayu. Sekitar rumah adalah ladang. Berbagai sayuran seperti kubis, wortel, kentang, dan bawang daun terhampar luas. Tepat seperti yang sering bikin iri orang kota. Mau bikin sayur tinggal petik. Desa Argosari terdiri dari empat dukuh, Pusung Duwur, Bakalan, Gedok, Argosari Krajan. Jarak keempat dukuh ini dipisahkan oleh bukit dan lembah. Dukuh pertama yang diinjak saat memasuki Desa Argosari adalah Dukuh Gedok.

Pada jam-jam seperti ini rumah-rumah masih sepi. Warga baik muda maupun tua, bahkan anak-anak, sedang turun ke ladang. “Sebaiknya kita ke masjid dulu, menunggu waktu ashar sambil istirahat,” usul Didin pun diamini seluruh rombongan. Masjid terdekat terletak di Dukuh Bakalan. Arah timur dari dukuh Gedok. Menuruni dua lembah dan memutar ke sebuah bukit lagi. “Hati-hati, jalan terparah ada di turunan pertama,” kata Didin waspada. Apa? Masih ada yang lebih parah?

Masjid Alhidayah, masjid pertama di Desa Argosari. Selesai dibangun Maret 2009. “Di sinilah sholat jumat pertama kali dilaksanakan, namum dulu belum ada bangunan masjid,” kenang Didin. Seperti yang diduga sejak awal. Dingin air wudlu menusuk kulit. “Kalo pas musim dingin, embun sampai membeku,” ujar Didin. Pantas saja, di suasana yang biasa saja air begitu dingin. “Orang sini kaya-kaya. Tiap hari mandi dan mencuci pakai air kulkas,” celetuk Elid sambil tertawa.

***

Setelah sholat ashar, survey yang sebenarnya baru dilaksanakan. Kami mendatangi beberapa rumah sebagai sampel. Yang pertama adalah kediaman Supomo. Ia dikenal sebagai orang paling kaya di sini. Jaraknya tidak jauh dari masjid. Bahkan tanah masjid pun hasil wakaf darinya. Jangan bayangkan rumah yang kami kunjungi megah dengan perabotan yang mewah. Pak Didin memandu kami.

“Assalamu’alaikum,” Pak Didin beruluk salam. Tanpa menunggu sang empunya rumah menyambut, Pak Didin langsung masuk. Kami hanya menunggu dipersilakan masuk. Beberapa saat menunggu, pemilik rumah tak juga keluar. “Lah, ayo masuk,” Pak Didin mengajak kami masuk. Kami diarahkan langsung ke ruang belakang. Kami hanya bisa saling pandang tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Di sini kalau bertamu tidak perlu basa-basi, langsung saja ke dapur, dan inilah suguhan utamanya,” kata Pak Didin sambil menunjuk api di pawon. Ya, di sini kehangatan adalah hidangan utama untuk menghormati tamu. Jika sedang tidak memasak pun, pawon ini akan dinyalakan untuk menciptakan kehangatan. Pada awalnya Dulu Pak Didin juga canggung kalau harus bertamu langsung ke dapur.

Di dapur, keluarga Pak Supomo hanya ada ibunya, Sarumi, dan istrinya, Ponasri. Mereka sedang melakukan rutinitas sehari-hari, memasak. Sedangkan Supomo belum pulang dari ladang. Cara memasak masyarakat Argosari sama seperti kebanyakan orang. Namun ada hal yang baru pertama kali kami temui di sini. Mereka tidak mengenal bumbu dapur. “Ya kalau masak sayur ya begini ini,” ujar ponasri sambil menaburkan garam ke atas rebusan kubis dan wortel yang dipetik dari ladang.

Ada cerita lucu dalam hal ini. Setahun lalu, saat pembangunan masjid sedang berjalan, untuk menjamu warga yang bergotong royong, Pak Didik menyembelih dua ekor kambing. Untuk menyiasati keterbatasan bumbu, sengaja ia membawa bumbu yang sudah disiapkan sang istri dari rumah. Ia yakin masakan kali ini akan beda. Setelah daging kambung masak, makan bersama dimulai. Semua manyantapnya dengan lahap. Hanya Pak Didin yang merasa ada yang aneh. Namun tanpa berkata apa-apa, dia menghabiskannya juga. Baru setelah makan selesai, dia menanyakan pada Ponasri yang bertanggung jawab sebagai kepala dapur. “Dagingnya tadi apa nggak dicuci kok aromanya aneh?” Tanya Pak Didin curiga. “Dicuci, Pak, sudah saya bilas pake Rinso dua kali kok, apa memangnya masih bau,” jawap sang kepala dapur tanpa merasa berdosa. Pak didin Cuma bisa geleng-geleng.

Ya, walau Desa Argosari dekat dengan kawasan wisata Gunung Bromo, masyarakatnya masih cukup tertinggal. Kemakmuran tidak berbanding lurus dengan suasananya yang asri. Hijaunya kebun mereka yang penuh dengan sayuran untuk dijual ke kota. Tidak seperti yang selama ini membuat iri orang kota. Hasil pertaniah memang maju pesat di Argosari. Namun, apa guna jika harga selalu anjlok setiap masa panen tiba. Sekilogram kubis hanya dihargai Rp 100,- sedang wortel hany Rp 800,-. Bahkan jika harga sayuran terjun bebas, banyak warga yang membiarkan sayuran siap panen membusuk di ladang. “Biaya pemetikan dan ditribusi tidak tertutupi dengan hasil penjualan.

Di bidang pendidikan, dari sekitar 3500 penduduk Argosari, mayoritas buta huruf. Bahkan hingga kini banyak anak usia sekolah yang tidak bersekolah. “Lebih sulit mengajak orang bersekolah daripada belajar akidah,” ungkap Pak Didin. Selain akses yang sulit karena jaraknya yang jauh, pola pikir mereka masih berkutat pada bagaimana makan dan berladang.

Dari rumah Pak Supomo, perjalanan berlanjut ke rumah Bu Sunetri. Letaknya diujung Dukuh Bakalan. Kabut mulai turun. Selain pandangan yang terbatas, jelan yang menanjak cukup menguras tenaga. Samar-samar rumah Bu Sunetri mulai tampak. Sebuah rumah yang terbuat dari papan kayu berataskan seng dengan ukuran 4 x 4 meter. Keadaannya memrihatinkan. Memasukinya seperti memasuki sangkar. Tempat tidur dan dapur jadi satu. Dan yang paling luar biasa, sangkar yang kecil ini dihuni oleh Sunetri dan suaminya beserta kesebelas anaknya yang masih kecilkecil.

Masih banyak lagi rumah-rumah menyerupai sangkar di sekitar tempat tinggal Sunetri. Kebanyakan dari mereka buruh tani. Anehnya, mereka memiliki tanah namun tidak digarap sendiri. Anah itu disewakan dan dia menjadi buruh di tanahnya sendiri. Hal ini terjadi karena modal untuk menanam sayur tidak murah. Mereka tak mampu menanggungnya. Hal macam inilah yang membuat tim survey BBQ makin bersemangat. Masih terlalu banyak orang yang membutuhkan dukungan. Mari Peduli untuk Berbagi.[]

Iklan

About pagarduri

Adalah ruang kreasi yang tak mengenal batas
Pos ini dipublikasikan di Belajar. Tandai permalink.

2 Balasan ke Santap Api di Argosari

  1. arifin berkata:

    wah Boz, moco perjalanan dikau darah petualanganku seakan kembali mendidih…!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s